Smart City Tidak Membuat Kota Cirebon Tinggalkan Kearifan Lokal

CIREBON-Menjadi Smart City sejak 2017, tidak membuat Kota Cirebon melupakan nilai-nilai atau kearifan lokalnya. Smart city juga untuk meningkatkan pelayanan pemerintah kepada masyarakatnya.

Hal tersebut diungkapkan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Cirebon, Drs. H Asep Dedi M.Si., saat menerima Benchmarking Diklat Kepemimpinan tingkat III tahun 2019 Pemda Kabupaten Demak dengan tema “OPD Pengampu Smartcity, OPD yang Memiliki Inovasi Pelayanan Publik” di ruang Adipura Kencana, Balaikota Cirebon, Senin, 25 Maret 2019.

“Kota Cirebon sudah menjadi Smart City sejak 2017 lalu,” kata Asep.

Sejak itu pula Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (DKIS) Kota Cirebon sudah mengeluarkan berbagai program, khususnya untuk peningkatan kualitas informasi dan pelayanan kepada publik.

Sekalipun sudah menjelma menjadi Smart City, namun Kota Cirebon menurut Asep tetap tidak meninggalkan tradisi, budaya dan sejarahnya. “Kota Cirebon sudah berusia 649 tahun lalu atau sekitar abad ke 15,” kata Asep.

Kota Cirebon memiliki sejarah dan budaya yang panjang dan hingga kini masih bertahan. Bahkan di Kota Cirebon ini memiliki 4 kesultanan. “Semua masih kita lestarikan,” ungkap Asep. Bahkan di era Smart City ini, Kota Cirebon sudah menetapkan sebagai kota budaya dan pariwisata berbasis kota kreatif yang kaya akan sejarah dan budayanya.

Karena itu, berbagai pembenahan saat ini tengah dilakukan untuk bisa mencapai target 2 juta kunjungan wisatawan sepanjang tahun ini. Mulai dari ketertiban, kebersihan dan penghijauan.

“Tak lupa, pelayanan kepada masyarakat juga tetap ditingkatkan,” kata Asep.

Salah satunya yang telah dilakukan Disdukcapil Kota Cirebon yaitu dengan mencetak KTP elektronik hanya dalam hitungan jam saja.

Sementara itu Kepala DKIS Kota Cirebon, Iing Daiman, S.Ip., M.Si., mengapresiasi kunjungan Benchmarking Diklat Kepemimpinan tingkat III dari Kabupaten Demak tersebut.

“Salah satu fokus dan lokusnya disini terkait smart city. Kunjungan ini sebenarnya penghargaan bagi Kota Cirebon,” ungkap Iing.

Kabupaten Demak, lanjut Iing, sebenarnya juga lolos dan terpilih pada 100 kabupaten dan kota menuju smart city. Perbedaannya, Kota Cirebon terpilih lebih awal, sedangkan Kabupaten Demak di putaran terakhir.

Namun menurut Iing, dalam Smart City tidak masalah apakah itu pertama atau terakhir. “karena semangatnya yaitu semangat kebersamaan, termasuk semangat untuk berbagi aplikasi dan pengalaman,” ungkap Iing.

Apa yang sudah diimplementasikan di Kota Cirebon bisa dibawa ke Kabupaten Demak, demikian pula apa yang baik di Kabupaten Demak bisa pula dilakukan di Kota Cirebon.

Sementara itu ketua rombongan Benchmarking Diklat Kepemimpinan tingkat III, Hadi Waluyo SH., M.Pd., mengungkapkan jika dalam kurikulum diklat, peserta diharuskan membuat proyek perubahan. “Karena itu mereka harus banyak menggali sumber informasi untuk menyusun proyek perubahan tersebut,” kata Hadi.

Karena itu, kunjungan ke Kota Cirebon dilakukan. Karena Kota Cirebon menurut Hadi merupakan kota yang sudah berhasil, khususnya dalam pengelolaan Smart City dan pelayanan publik.

Sumber : http://www.cirebonkota.go.id/

IDSECONF 2019 Digelar, Kota Cirebon Warnai Perkembangan Teknologi Informasi Nasional

CIREBON-Kota Cirebon akan mewarnai peningkatan perkembangan teknologi dan keamanan data secara nasional. Hal ini ditunjang dengan berbagai kegiatan berbasis teknologi yang dilaksanakan di Kota Cirebon dalam beberapa tahun terakhir.

Demikian terungkap dalam acara pembukaan Indonesia It Security Conference (IDSECCONF) 2019 di Kampus STMIK CIC Kota Cirebon, Sabtu (16/3). Hadir dalam kegiatan tersebut 150 praktisi, akademisi dan pakar teknologi informasi tingkat nasional. IDSECCONF memberikan pencerahan kepada pelajar, mahasiswa, maupun kalangan IT Security professional khususnya mengenai berbagai isu-isu keamanan teknologi informasi terbaru.

“Kami bangga menjadi lokasi berkumpulnya para praktisi, akademisi dan para ahli IT dalam kegiatan IDSECCONF ini. Ini kali kedua kegiatan IDSECCONF dilaksanakan di Kota Cirebon. Harapannya tentu Kota Cirebon menjadi bagian peningkatan perkembangan teknologi termasuk kesiapan dalam penanganan keamanan data,” ungkap Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Kota Cirebon, Iing Daiman, SIP, MSi

Iing menambahkan dalam upaya mewujudkan kabupaten dan kota yang cerdas menerapkan sistem informasi atau aplikasi. Dengan penerapan aplikasi berbasis online memang dapat mempermudah untuk berkomunikasi dan layanan yang baik.

“Tetapi terkadang kita tidak sadar bahwa dengan penerapan aplikasi berbasis online memunculkan persoalan baru yaitu persoalan keamanan informasi atau data itu sendiri. Untuk itu saya berharap melalui kegiatan ini dapat membuka wawasan kita semua, keamanan informasi wajib menjadi pilar yang sangat penting dalam pembangunan smart city,” ujar Iing.

Salah satu Anggota Komite IDSECCONF, Abeng mengatakan Kota Cirebon mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah dalam seleksi yang ketat. Pihaknya banyak melihat perkembangan Kota Cirebon yang terus bergeliat termasuk mengembangkan IT melalui program smart city.

“Kami akhirnya berkumpul bersama akademisi dan praktisi mengadakan riset dan bertukar pengalaman terkait perkembangan IT khususnya keamanan data informasi,” ujar Abeng.

Sementara Ketua STMIK CIC Kota Cirebon, DR Chandra Lukita,SE.,MM mengatakan pihaknya merasa gembira dengan perkembangan Kota Cirebon yang terus meningkatkan kemampuan dunia IT dalam program smart city. Smart City telah mengubah Kota Cirebon menjadi kota yang maju dan tidak gagap teknologi.

“Tentu dengan perkembangan ini juga kita tidak gagap dengan keamanan data. Dengan keamanan program yang dilaksanakan berjalan sukses,” tandasnya.

Sumber : http://www.cirebonkota.go.id/

Pemkot Cirebon Launching Branding Kota Cirebon The Gate of Secret

CIREBON- Pemerintah Daerah Kota Cirebon mendorong akselerasi pengembangan kota sebagai destinasi wisata budaya unggulan di Jawa Barat. Pemkot Cirebon melaksanakan berbagai kegiatan wisata unggulan antara lain Cirebon Travel Mart, Launching Cirebon Tourism on Bus (Citros) dan kegiatan Cirebon Xpose 2019.

Demikian diungkapkan Wakil Wali Kota Cirebon, Dra. Hj. Eti Herawati usai melakukan pembukaan Cirebon Expose 2019 dan Cirebon Creative Fashion Carnival di depan Gedung BAT, Sabtu (2/3) malam. Tampak hadir dalam kegiatan tersebut Sultan Kasepuhan XIV, PRA Arief Natadiningrat, SE,Sekretaris Daerah, Drs. H. Asep Dedi, MSi, Ketua DPRD Kota Cirebon, Edi Suripno, S.IP, M.Si, dan ratusan tamu lainnya. Eti mengatakan Cirebon Xpose 2019 dan Cirebon Creative Fashion Carnival merupakan rangkaian Cirebon City Festival 2019.

“Sebagaiman kita ketahui bersama, Kota Cirebon sedang memfokuskan program pengembangan bidang pariwisata. Pariwisata merupakan sektor terpenting dalam pembangunan daerah Kota Cirebon,” ungkap Eti.

Eti menambahkan selain penggerak ekonomi kegiatan pariwisata telah menjadi isu strategis untuk lokomotif pembangunan daerah. Perkembangan pariwisata Kota Cirebon yang cepat dan pesat akan dikelola dengan perencanaan matang dan terpadu. Tentu perencanaan yang matang dan terpadu dapat memberikan dampak positif yang maksimal.

“Hal ini seiring upaya pembangunan dalam memajukan masyarakat Kota Cirebon sesuai dengan akselerasi pencapaian visi dan misi Kota Cirebon 2018-2023. Yakni mewujudkan Cirebon sebagai kota kreatif berbasis budaya dan sejarah,” ujar Eti.

Seiring dengan pembangunan Pariwisata Kota Cirebon diluncurkan tagline City Branding yatu Cirebon The Gate of Secret. Hal ini sesuai Keputusan Wali Kota Cirebon Nomor 430/K6p. -DKOKP/2O19 tentang penetapan Branding di Kota Cirebon.

“Terkandung dalam makna The Gate Of Secret adalah segala sesuatu yang ada di Kota Cirebon terkait seni, budaya, adat istiadat sampai relief dan bangunan memiliki filosofis yang dalam. Dimana makna filosofisnya menggambarkan arti yang mendalam perjalanan kehidupan manusia di dunia,” tandas Eti.

Sementara Ketua Pelaksana yang juga Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Kota Cirebon, Iing Daiman, SIP, MSi, mengatakan kegiatan Cirebon Expose 2019 Dan Cirebon Creative Fashion Carnival merupakan kegiatan akselerasi pengembangan Kota Cirebon sebagai destinasi Wisata Budaya unggulan di Jawa Barat.

“Kami memperkenalkan kesenian dan produk-produk UMKM yang dimiliki oleh Kota Cirebon kepada masyarakat,” ujar Iing.

Iing menambahkan kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari yang dimulai pada Sabtu 2 Maret 2019 hingga Minggu 3 Maret 2019 di Depan Gedung BAT, Jalan Pasuketan Kota Cirebon.

Pameran menampilkan 13 Stand UMKM Kota Cirebon. Selain itu penampilan kreasi seni berupa kesenian angklung, topeng, kuda lumping, debus, sintren, brai, tarling, tari tangan seribu,fashion show, drama musical, palagan galuh dan Branding Kota Cirebon. Puncaknya akan tampil kreasi seni berupa barongsai, Cirebon Creative Fashion Carnival diiringi Angklung PWY dan Gardu Musik.

“Berdasarkan pantauan sejak pagi (Sabtu red) terbukti sudah ribuan warga masyarakat yang menyaksikan pameran serta berbagai kesenian. Mereka datang dari dalam dan luar Kota Cirebon bahkan wisatawan dari berbagai kota seperti Jakarta, Bandung dan Jateng,” tandasnya.

Sumber : http://cirebonkota.go.id

Cirebon Expose Bukan Agenda EO

CIREBON-Rangkaian kegiatan Cirebon City Festival (C’Fest) bakal ditutup dengan kegiatan Cirebon XPose, Sabtu-Minggu (2-3/3). Person in Charge (PIC) C’Fest, Iing Daiman,Sip.,MSi membantah Cirebon XPose adalah agenda event organizer (EO).

“Rangkaian C’Fest sudah terencana. Sudah ada dalam RKA (Rencana Kegiatan Anggaran),” ujar Iing kepada Radar Cirebon, Kamis (28/2).

Iing menjelaskan, agenda Cirebon XPose tidak ada kaitannya dengan Sound of Sunyaragi. Dan tidak terpengaruh oleh pelaksanaan Sound Of Sunyaragi. Untuk C’Fest ini, sudah ada alokasinya di APBD. Tepatnya di RKA Dinas Kepemudaan Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (DKOKP).

Agenda ini persiapannya sudah 95%. Dalam Cirebon XPose akan ada booth UMKM yang mengikuti pameran.
Termasuk di dalamnya, ada booth layanan mobile seperti Samsat, Kepolisian, Citros, BPJS dan Cirebon Siaga 112.
Ada juga booth Bandara Internasional Kertajati (BIJB), Pegadaian yang juga memiliki program menukar sampah dengan emas. Acara juga diisi dengan penampilan seniman dan budayawan Cirebon. Ada penampilan tari tangan seribu dan juga drama musikal, serta pada tanggal 3 Maret ada Cirebon Creative Fashion Carnival.
Wakil Walikota Cirebon Dra. Hj Eti Herawati menyebutkan acara Cirebon XPose ini merupakan acara yang diharapkan dapat berkontribusi pada pariwisata Cirebon. Ia juga menekankan Sound Of Sunyaragi dan Cirebon Festival adalah dua hal berbeda. Sehingga event Sound of Sunyaragi tak membuat C’Fest kehilangan daya tarik.
Eti pun kembali menekankan bahwa tidak ada memorandum of understanding (MoU) antara pemkot dengan Foris International Event Organizer. Adapun keterlibatan EO sebatas menambah konten acara di C’Fest.

Sumber : http://radarcirebon.com

Pemkot Cirebon Dorong Tumbuhnya Industri Digital

CIREBON- Pemerintah Daerah Kota Cirebon mendorong industri digital tumbuh untuk kemajuan wilayah dengan berbagai terobosan program. Era digital harus dihadapi positif sebagai perkembangan jaman yang terus meningkat.

Demikian diungkapkan Wakil Wali Kota Cirebon, Dra. Hj. Eti Herawati saat menghadiri Seminar Nasional Akreditasi Program Studi (IAPS) 4.0 dan Rapat Kerja Nasional ( RAKERNAS) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Asosiasi Pendidikan Tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM) 2019 di Aula sekolah Pelita Bangsa, Sabtu (23/2). Eti mengatakan Pemerintah Daerah Kota Cirebon juga sudah meluncurkan berbagai program digital antara lain wisata Kota Cirebon (Wistakon), E-Presensi E-Wasiat (Wayahe Sadar Akherat) hingga aplikasi yang memuat tentang informasi kegiatan Pemkot Cirebon.

“Dalam upaya memanfaatkan teknologi terkini Pemerintah Daerah Kota Cirebon membuat beberapa aplikasi berbasis kearifan lokal. Berbagai inovasi terus dikembangkan Cirebon dalam memasuki era digital,” ungkap Eti.

Eti menambahkan pihaknya akan terus menyosialisasikan berbagai terobosan tersebut agar dipergunakan terutama ke generasi milenial. Generasi milenial menjadi harapan bangsa sehingga terobosan tersebut harus dipahami dan dipergunakan mereka.

“Kami tentu ingin membangun anak-anak muda lebih mengenal industri digital,” ujar Eti.

Hal lain, Eti menyoroti Perguruan Tinggi (PT) harus senantiasa mengedepankan kualitas berkelanjutan serta menghasilkan tantangan global yang memiliki keahlian teknis mampu bersaing di era revolusi generasi 4 atau (Four point O). Kehadiran Seminar Nasional IAPS 4.0 dan Rakernas APTIKOM diharapkan juga menjadi jalan sehingga kemajuan PT di Kota Cirebon semakin meningkat.

“Karena kolaborasi untuk kemajuan bangsa dan memanfaatkan teknologi harus dilakukan sehingga mengembangkan iklim akademik dan keilmuan yang bagus,” ujar Eti.

Dalam kegiatan seminar tersebut diikuti 150 peserta dari berbagai daerah se Indonesia. Workshop menghadirkan tiga pembicara akreditasi program studi 4.0 yakni Prof. Ir. Zainal Arifin Hasibuan,Msc.,phD, Prof Dr. Rer. Nat Achmad benny mutiara Q N , S.Kom dan Ir. Paulus Insap Santosa, M.Sc.,Ph.d.,IPU.
Ketua penyelenggara seminar, Chandra Lukita mengatakan kehadiran para tenaga ahli di bidang IT di Kota Cirebon tentu harus dimanfaatkan semua pihak. Kegiatan ini juga memperkenalkan wisata Kota Cirebon yang sangat menarik.

“Tentu kehadiran para professor dan ahli di bidang IT sangat membanggakan Kota Cirebon,” kata Chandra.

Sedangkan Ketua APTIKOM Pusat, Prof. Ir. Zainal Arifin Hasibuan, Msc., phD, mengatakan APTIKOM merupakan paguyuban perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki program studi terkait dengan rumpun ilmu informatika dan komputer.

“Revolusi industri 4.0 ini sebenarnya bisa kita sikapi dengan positif dengan menggunakan momentum ini suatu momen melakukan percepatan di bidang IT. Kami melihat Pemerintah Kota Cirebon sudah mengembangkan berbagai program digital yang tidak meninggalkan kearifan lokal,” tandasnya.

Sumber : http://www.cirebonkota.go.id/

Command Center Jadi Destinasi Wisata Digital Kota Cirebon

CIREBON- Command Center milik Pemerintah Daerah Kota Cirebon yang terletak di Ruang Atas Balaikota Cirebon menjadi destinasi wisata digital. Hal ini terlihat banyaknya kunjungan kerja berbagai instansi Pemerintah Daerah Kota/Kabupaten lain serta Kementerian yang sengaja ingin mengetahui keberadaan command Center. 

Kunjungan pada umumnya ingin mengetahui keberadaan command center yang memiliki fungsi banyak tapi dibangun dengan anggaran terbatas. Hal ini seperti terungkap dalam kunjungan Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung yang diwakili Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) sengaja datang.

“Pemerintah Kabupaten Bandung berencana membangun command center. Keberadaan command center menjadi rencana strategis kami pada tahun 2019 dalam peningkatan pelayanan ke masyarakat,” ungkap Kabid Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) Diskominfo Kabupaten Bandung, Ir Anita Emmayanti, MT di Command Center, Rabu (19/12).

Anita menambahkan pihaknya mendapat rekomendasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat jika Kota Cirebon memiliki command center berkualitas dan berfungsi baik tapi menggunakan anggaran terbatas dalam pembangunannya. Pihaknya membuktikan sendiri dengan melihat kualitas command center dan ingin belajar untuk membuatnya.

“Kreatifitas yang dilakukan Pemerintah Daerah Kota Cirebon terutama Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (DKIS red.) ternyata dapat dilihat salah satunya dari pembangunan Command Center. Kami juga tertarik dengan pembuatan berbagai aplikasi yang juga dikembangkan DKIS. Hal yang baik tanpa melupakan kearifan lokal,” ujar Anita.

Anita mengajak seluruh jajaran bidang TIK untuk menggali ilmu ke Kota Cirebon sehingga dapat dikembangkan di Kabupaten Bandung. Pihaknya tidak mengira Kota Cirebon menjadi kota yang pesat di bidang Teknologi Informasi (TI). Selain mengunjungi command Center, tim TIK Kabupaten Bandung mengunjungi pusat informasi di Kantor DKIS.

Kunjungan TIK Kabupaten Bandung diterima oleh Kepala DKIS, Iing Daiman, SIP MSi, Kepala Bidang Pengelolaan Komunikasi Publik (PKP), Ahadiyah Dwi Agustinah, Sos, dan lainnya. Iing menyambut baik Pemerintah Kabupaten Bandung yang ingin mengetahui perkembangan TI di Kota Cirebon.

“Alhamdulillah kami melihat keberadaan command center menjadi destinasi wisata digital. Terbukti sudah banyak daerah yang datang ke Kota Cirebon ingin mengetahui command center selain wisata religi dan belanjanya,” ujar Iing.

Iing menambahkan setidaknya sudah ada lebih dari 10 pemerintah daerah yang sudah dan akan datang ke command center. Mereka yang sudah datang antara lain Kabupaten Kota Waringin Barat, Yogyakarta, Karawang, Majalengka, Kuningan, Bangka Belitung, Pangandaran, Bandung Barat dan lainnya. Sedangkan yang sudah dipastikan datang dari Kabupaten Bangka, Tual dan Kementerian Perdagangan RI.

“Kami juga mengembangkan aplikasi tematik yang tidak meninggalkan kearifan lokal. Hal ini pula yang menempatkan Kota Cirebon masuk 25 Kabupaten/Kota Smart City bersama kota lain yang memiliki anggaran besar menjadi kota smart city,” tandasnya.

Sumber : http://www.cirebonkota.go.id/

FGD Smart City, Bahas Soal Rekayasa Lalin Hingga Sampah

KOTA CIREBON—Dewan Smart City Kota Cirebon pada Selasa 18 Desember 2018 menggelar Focus Group Discussion (FGD) yang membahas proyeksi program smart city di tahun 2019 dan hasil evaluasi program dari Asessor Smart City Indonesia beberapa waktu lalu.

Pada FGD Dewan Smart City Kota Cirebon juga digelar launching aplikasi e-kantorkula dan e-kinerja ASN di Kota Cirebon.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Cirebon, Drs. H. Asep Dedi M. Si mengapresiasi kegiatan FGD Dewan Smart City Kota Cirebon yang diharapkan bisa terus memperbaiki program di tahun berikutnya.

“Evaluasi program dari Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk program smart city di Kota Cirebon agar ditindaklanjuti,” katanya saat membacakan sambutan Wali Kota Cirebon.

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (DKIS) Kota Cirebon, Iing Daiman, S.Ip., M.Si menuturkan FGD terdiri dari berbagai unsur dan membahas masalah catatan evaluasi dari Asessor Smart City Indonesia yaitu soal integrasi aplikasi, citra positif kota soal keamanan dan kenyamanan, pariwisata, city branding, dan solusi alternatif biaya pembangunan.

“Beberapa catatan evaluasi akan diperbaiki, kemudian untuk program yang berjalan bagus akan dipertahankan dan ditingkatkan,” tuturnya.

Iing mengungkapkan sejumlah usulan datang dari peserta FDG, seperti soal rekayasa lalu lintas yang diusulkan kalangan perguruan tinggi, dan soal penataan sampah kota yang diusulkan Bank Indonesia Cirebon.

“Usulan-usulan dari berbagai kalangan di FGD akan ditindaklanjuti sehingga menjadi program Cirebon Smart City,” ujarnya.

Iing optimistis program Cirebon Smart City di tahun 2019 akan lebih progresif menyusul adanya dukungan dari Pemprov Jabar yang berniat mengembangkan fungsi Alun-Alun Kejaksan dan Kantor Bakorwil (Gedung Negara) serta Jalan Siliwangi menjadi main street dan Jalan Karanggetas menjadi shopping street.

“Sejumlah anggaran kabarnya telah disiapkan Pemprov Jabar untuk pengembangan tempat-tempat tersebut,” tambahnya.(Rillis)

Sumber : http://www.cirebonkota.go.id/

Smart City, Jadikan Kota Cirebon Kreatif, Inovatif, Sinergis dan Berdaya Saing

CIREBON – Berbagai kemajuan berhasil diraih Kota Cirebon dalam penerapan Smart City. Dengan Smart City, Kota Cirebon akan menjadi kreatif, inovatif, sinergis dan berdaya saing pada 2028 mendatang.

Sekretaris Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (DKIS) Kota Cirebon, Ma’ruf Nuryasa, AP., menjelaskan jika berbagai inovasi dan terobosan sudah mereka lakukan sejak ditetapkan sebagai salah satu dari 25 kota dan kabupaten di Indonesia yang siap untuk melaksanakan Smart City di daerah pada Mei 2017 lalu. “Cirebon Smart City merupakan upaya perubahan pengelolaan Kota Cirebon menjadi lebih baik. Namun tanpa meninggalkan kearifan lokal dalam implementasinya,” ungkap Ma’ruf.

Salah satu kearifan lokal yang tidak ditinggalkan yaitu dengan penggunaan bahasa daerah. “Salah satunya program Wadul Bae,” ungkap Ma’ruf. Wadul bae merupakan kepanjangan dari Warga Peduli Bocah Lan Emboke (Warga Perduli Anak dan Ibunya). Melalui program ini, warga diajak bersama-sama untuk peduli jika ada anak maupun ibu di sekitar mereka.

Selain tetap mempertahankan kearifan lokal, Cirebon Smart City memiliki terobosan lainnya yang juga telah dilakukan. Diantaranya dengan membuat Cirebon Command Center pada 29 Oktober 2018. “Cirebon Command Center merupakan pusat monitorong dan kendali dari Pemerintah Daerah Kota Cirebon,” ungkap Ma’ruf. Terutama untuk seluruh layanan pemerintahan dan layanan publik yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Kota Cirebon. Serta menjadi pusat integrasi layanan dari stakeholders terkait lainnya.

Ada pun konten yang ada pada Cirebon Command Center diantaranya, info pajak, info BPHTB, info sebaran reklame, ketersediaan kamar di RSD Gunung Jati, info antrian unit rawat jalan RSD Gunung Jati, infor rekapitulasi proses perizinan, info Linmas Kota Cirebon, dashboard Cirebon Satu Data, dashboard E Puskesmas, dashboard jaringan perangkat online, CCTV di beberapa titik area publik, CCTV di layanan publik (kecamatan Harjamukti), area traffic control system (ATCS) Dinas Perhubungan Kota Cirebon.

“Saat ini kami juga telah memiliki layanan kedaruratan Cirebon Siaga 112,” ungkap Ma’ruf. Layanan kedaruratan ini menggabungkan semua nomor layanan kedaruratan. Sehingga mempermudah masyarakat untuk hanya mengingat satu nomor kedaruratan saja. Sebelum dilaunching, DKIS Kota Cirebon juga telah mengumpulkan stakeholders terkait, mulai dari kepolisian, PLN, pemadam kebakaran dan lainnya untuk menyosialisasikan satu nomor kedaruratan ini. Dengan menekan nomor kedaruratan 112, nantinya akan disalurkan kepada instansi yang memang berwenang untuk menanganinya.

Sejak dilaunching Oktober lalu, hingga 11 Desember 2018 telah terjadi kedaruratan sebanyak 111 kejadian. Masing-masing terdiri dari kebakaran (14 aduan), kekerasan PA (2 aduan), trantibum (9 aduan), ambulan (9 aduan), kecelakaan (6 aduan), kamtibmas (19 aduan), BPBD (2 aduan) serta informasi mulai dari traffic light, PJU, PDAM, PLN dan infrastruktur sebanyak 50 aduan.

Sedangkan kegiatan teranyar yang baru saja dilakukan yaitu Festival TIK mulai 1 hingga 2 Desember 2018 serta pameran IT dan UMKM. Melalui kegiatan ini diharapkan ada peningkatan kompetensi Relawan TIK dan komunitas penggerak TIK melalui literasi digital untuk mendukung program Smart City dan Smart Society. “Sejumlah kegiatan kami lakukan saat Festival TIK tersebut,” ungkap Ma’ruf. Yaitu seminar nasional sebanyak 3 kali, serta 32 workshop. Sedangkan pameran IT dan UMKM dimaksudkan untuk mendorong agar UMKM mulai memasuki pasar digital yang bisa membuat produk-produk yang mereka hasilkan memiliki pangsa pasar yang luas. “Dengan semua inovasi dan terobasan yang kami lakukan, sejumlah penghargaan berhasil diraih Pemerintah Daerah Kota Cirebon,” ungkap Ma’ruf. Diantaranya penghargaan TOP IT On Collaboration And Innovation Development 2018 (TOP IT 2018) serta SP4N-Lapor dimana Kota Cirebon masuk 10 besar penghargaan TOP pelayanan SP4N –Lapor (Layanan Pengaduan Online Rakyat) terbaik se Indonesia 2018.

Sumber : http://www.cirebonkota.go.id/